Senin, 26 September 2011

Kitab-Kitab Tafsir Termasyhur di Era Modern

<PENGANTAR STUDI ILMU AL-QURAN><SYAIKH MANNA' AL-QATHTHAN>

Para Mufassir terdahulu telah menyajikan kepada kita kitab-kitab tafsir yang dapat diakes sesuai dengan kemampuan mereka, baik yang manqul maupun ma’qul, dengan pendekatan kebahasaan, balaghah, nahwu, fikih dan madzhabnya, madzhab kalam, dan filsafat. Setelah itu semangat dan kreativitas generasi berikutnya mulai melemah sehingga apa yang dapat mereka lakukan hanya seputar kerja talkhis(meringkas), menukil, melemahkan atau menguatkan apa yang telah ada.
Namun ketika klebangkitan ilmu pengetahuan di abad modern tiba, dampaknya juga terasa kepada kebangkitan ilmu keagamaan, khususnya di bidang tafsir. Berikut ini beberapa contoh tafsir yang lahir pada abad tersebut:
1.       Al-Jawahir fi Tafsir Al-Quran
Syaikh Thanthawi Jauhari adalah seorang yang sangat tertarik dengan keajaiban-keajaiban alam. Profesinya sebagai pengajar pada sekolah Dar Al-Ulum Mesir. Dalam proses mengajarnya, ia menafsirkan beberapa ayat Al-Quran untuk para siswanya, disamping itu ia telah menulis artikel di beberapa mass media,kemudian menerbitkan karyanya di bidang tafsir.

Dalam Jawahir fi Tafsir Al-Quran yang ditulisnya, ia sangat memberikan perhatian besar pada ilmu-ilmu alam dan keajaiban berbagai makhluk. Menurutnya, di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat ilmu pengetahuan yang jumlahnya lebih dari tujuh ratus lima puluh ayat. Ia menganjurkan umat Islam agar memikirkan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan ilmu-ilmu alam(al-‘ilmu al-kauniyah-natural sciences), mendorong mereka untuk mengamalkannya, baik untuk kepentingan masa kini maupun nanti. Baginya ayat-ayat kauniyah ini harus lebih diperhatikan dari ayat-ayat yang lain, bahkan dari kewajiban-kewajiban agama sekalipun. Mengapa kita tidak mengamalkan ayat-ayat ilmu pengetahuan alam sebagaimana para pendahulu kita? Akan tetapi saya mengucapkan alhamdulillah, karena kini Anda telah dapat memabaca tafsir ini, yang mana mempelajarinya lebih utama daripada mempelajari ilmu faraidh, sebab ia hanya termasuk fardhu kifayah saja. Adapun ilmu pengetahuan ini dapat lebih mengenal Allah, karena itu ia menjadi fardhu ‘ain bagi setiap orang yang mampu.”

Nampaknya Jauhari silau dengan apa yang ia lakukan, ia berani mencela para mufassir terdahulu. Katanya, “Ilmu-ilmu yang kami masukkan ke dalam tafsir ini adalah ilmu yang dilalaikan oleh orang-orang bodoh yang tertipu, yaitu para fuqaha Islam yang kerdil. Kini adalah perubahan dan melahirkan fakta. Allah akan membimbing siapa saja yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”

Penulis tafsir ini telah mencampur adukkan barbagai kerancuan di dalam kitab tafsirnya. Ia memasukkan ke dalamnya gambar tumbuh-tumbuhan, binatang pemandangan alam dan berbagai eksperimen ilmiah, seakan-akan buku diktat tentang ilmu pengetahuan. Ia menerangkan hakikat-hakikat keagamaan seperti yang dilakukan oleh Plato dalam Republica-nya dan kelompok Ikhwan Ash-Shafa dalam risalah mereka, memaparkan ilmu-ilmu pasti dan menafsirkan ayat berlandaskan pada teori-teori ilmiah modern.
Menurut hemat kami, Thanthawi telah melakukan kesalahan besar terhadap tafsir dengan perbuatannya itu; ia mengira bahwa dirinya telah berbuat baik, padahal tafsir itu tidak diterima oleh banyak kalangan terpelajar, sebab ia memaksakan ayat kepada apa yang bukan maknanya. Oleh karena itu tafsir ini dianggap sama dengan yang Tafsir Ar-Razi. Orang-orang menyebutnya, “Di dalamnya terdapat segala hal kecuali tafsir itu sendiri.”

2.       Tafsir Al-Manar
Muhammad Abduh seorang yang telah merintis kebangkitan Ilmiah dan memberikan buahnya kepada murid-muridnya. Kebangkitan ini lahir dari kesadaran Islami untuk memahami ajaran-ajaran sosiologis Islam dan pemecahan agama terhadap problematika kehidupan masa kini. Benih-benih kebangkitan tersebut sebenarnya dimulai dengan gerakan Jamaluddin Al-Afaghani, yang kepadanya Muhammad Abduh berguru. Abduh memberikan mata kuliah tafsir di Universitas Al-Azhar dan mendapat sambutan baik dari mahasiswanya.

Rasyid Ridha salah satunya. Ia murid paling tekun mempelajari mata kuliah tersebut, paling bersemangat dan mencatatnya dengan teliti. Dapat dikatakan bahwa ia adalah ahli waris tunggal ilmu-ilmu Muhammad Abduh. Buah nyata akan hal ini tampak jelas dalam tafsirnya yang diberi nama tafsir Al-Quran Al-Hakim, tetapi popular dengan nama Tafsir Al-Manar, sesuai dengan nama majalah Al-Manar yang diterbitkannya.

Ia memulai tafsirnya dari awal Al-Quran dan berakhir pada firman Allah, ..
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagaian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Allah, Tuhanku), Pencipta langit dan bumi, Engkaulah penolongku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (Yusuf: 101)

Kemudian beliau meninggal sebelum sempat menyempurnakan penulisan tafsirnya. Bagian tafsir yang telah diselesaiakan ini dicetak dalam duabelas jilid berukuran besar.

Tafsir Al-Manar adalah sebuah tafsir yang banyak mengangkat pendapat para ulama salaf, sahabat dan tabiin. Demikia juga banyak memuat tentang retorika bahasa Arab dan penjelasan tentang sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan umat manusia. Ayat-ayat Al-Quran ditafsirkan dengan gaya bahasanya yang menarik, makna-maknanya diungkapkan dengan redaksi yang mudah dipahami, berbagai persoalan dikupas secara tuntas, tuduhan dan kesalahpahaman pihak musuh yang dituduhkan kepada Islam dibantah dengan tegas, penyakit-penyakit sosial diterapi dengan petunjuk Al-Quran. Rasyid Ridha menjelaskan bahwa tujuan utama tafsirnya untuk memahami kitab Allah sebagai sumber ajaran agama yang membimbing umat manusia ke arah kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

3.       Tafsir fi Zhilal Al-Quran
Gerakan Islam Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Asy-Syahid Hasan Al-Banna, tanpa diragukan dipandang sebagai gerakan Islam terbesar masa kini, tidak seorang pun  dari lawan-lawannya dapat mengingkari jasa gerakan ini dalam membangkitkan kesadaran Islam di dunia Islam. Dengan gerakan ini segala potensi pemuda Islam dicurahkan untuk berkhidmad kepada Islam, menjujnjung syariatnya, meninggikan kalimatnya, membangun kejayaannya dan mengembalikan kekuasaannya. Apa pun yang dikatakan tentang berbagai peristiwa yang terjadi atas jamaah ini, tidak mengecilkan pengaruh intelektualitasnya.

Diantara tokoh gerakan ini yang paling menonjol adalah seorang alim dan pemikir cemerlang yang sulit dicari bandingannya. Itulah Sayyid Quthb, yang telah memfilsafatkan pemikiran Islam dan menyingkapkan ajaran-ajarannya yang benar dengan jelas dan gamblang. Tokoh yang menemui Tuhannya sebagai syahid dalam membela akidah ini telah meninggalkan warisan pemikiran yang sangat bermutu, terutama kitab tafsirnya: Fi Zhilal Al-Quran.

Kitab tersebut merupakan sebuah tafsir sempurna tentang kehidupan di bawah sinaran Al-Quran yang bijak, sebagaimana dapat dipahami dari penamaan terhadap kitabnya. Ia meresapi keindahan Al-Quran dan mampu mengungkapkan perasaannya dengan jujur sehingga sampai pada kesimpulan bahwa umat manusia dewasa ini sedang berada dalam kesengsaraan yang disebabkan oleh baebagai paham dan aliran yang merusak, dan konflik berdarah yang tiada henti. Bagi situasi seperti ini menurutnya, tiada jalan keselamatan lain selain dengan Islam. Dalam pendahuluan tafsirnya ia mengatakan,”Telah saya rasakan masa kehidupan di bawah naungan Al-Quran hingga sampai pada keyakinan pasti... bahwa tidak akan ada kebaikan bagi umat ini, tidak ada ketenangan bagi kemanusiaan, tidak ada ketentraman bagi umat manusia, tidak ada kemajuan, keberkatan dan kesucian, juga tidak ada keharmonisan dengan hukum-hukum alam dan fitrah kehidupan... Kecuali dengan kembali kepada Allah.

Kembali kepada Allah, sebagaimana tampak di bawah naungan Al-Quran, hanya mempunyai satu bentuk dan satu jalan... Hanya satu tanpa yang lain.. Artinya mengembalikan segala persoalan hidup kepada sistem Allah yang telah digariskan bagi umat manusia di dalam kitab-Nya yang mulia. Yaitu dengan cara berhukum, berpedoman, dan mengikuti kitab-kitab-Nya. Jika tidak, maka itu berarti kerusakan di muka bumi, kesengsaraan bagi umat manusia, kemunduran ke dalam lumpur dan budaya jahiliyah yang menyembah nafsu, bukan menyembah Allah,
“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka belaka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”(Al-Qashash: 50)

Berhukum kepada sistem atau undang-undang Allah dalam kitab-Nya bukanlah perbuatan sunnah, sukarela ataupun pilihan, tetapi itu adalah sebuah keimanan... bagaimana tidak?:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan ( yang lain) tentang urusan mereka.”(Al-Ahzab:36)
“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (aturan) dalam masalah agama itu. Maka ikutilah  syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengerti. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat sedikit pun menyelamatkanmu dari siksa Allah. Dan sesungguhnya orang dzalim itu sebagiannya menjadi penolong bagi sebagiannya, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.”(Al-Jatsiah: 18-19)

Berangkat dari pandangan inilah Sayyid Quthb merumuskan metodologi dalam penulisan tafsirnya. Pertama-tama ia sodorkan satu “payung” dalam mukaddimah setiap surat untuk mempertautkan antara bagian-bagiannya dan untuk menjelaskan tujuan serta maksudnya. Sesudah itu barulah ia menafsirkan ayat dengan mengetengahkan riwayat-riwayat yang shahih, lalu mengemukakan sebuah paragraf tentang kajian-kajian kebahasaan secara singkat. Kemudian ia beralih ke soal lain, yaitu memberikan motivasi, membangkitkan kesadaran, meluruskan pemahaman dan mengaitkan Islam dengan kehidupan.

Kitab ini terdiri atas delapan jilid besar dan telah mengalami cetak ulang beberapa tahun saja, karena mendapat sambutan baik dari kalangan terpelajar. Memang, kitab ini merupakan kekayaan intelektual, dan sosial yang perlu dibaca oleh setiap Muslim masa kini.

4.       At-Tafsir Al-Bayani li Al-Quran Al-Karim
Diantara kaum wanita kita kontemporer yang ikut ambil bagian dalam kesusastraan Arab dan pemikiran sosial adalah Aisyah Abdurrahman, popular dengan nama Bintu Syathi’. Ia adalah pengajar pada fakultas Adab di Kairo dan pada fakultas Tarbiyah Putri di Al Azhar. Di tengah-tengah kesibukan mengajarnya ia sempat menulis tafsir beberapa surat pendek, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku yang diberi tajuk At-Tafsir Al-Bayan li Al-Quran.

Dalam tafsirnya, Bintu Syathi’ memusatkan perhatian pada kesusastraan Arab. Dalam pendahuluannya ia mengemukakan bahwa ia menempuh metode ini untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan, sastra dan bahasa. Dikatakannya pula bahwa ia pernah menyampaikan kajian seperti ini di berbagai konggres internasional. Misalnya dalam Konggres orientalis Internasional di India 1964. Topik pembahasan yang disampaikannya dalam bagian studi Islam adalah Musykilat At-Taraduf fi Dhaui At-Tafsir Al-Bayani li Al-Quran Al –Karim(Problematika Kata-Kata Sinonim dalam Al-Quran, Perspektif Tafsir Al-Bayan). Katanya, dalam pembahasan tersebut dijelaskan, bagaimana hasil penelitian cermat terhadap kamus lafadz-lafadz Al-Quran dan dalalah(penunjukan makna)-nya di dalam konteksnya? Hasilnya mengungkapkan bahwa AlQuran menggunakan sebuah lafadz dengan dalalah tertentu, yang tidak mungkin dapat diganti dengan lafadz lainnya yang juga mempunyai makna sama seperti diterangkan oleh berbagai kamus dan kitab-kitab tafsir, baik jumlah lafadz yang dikatakan sebagai mutaradif(sinonim) itu sedikit ataupun banyak.

Bintu Syathi’ mengkritik kesibukan mempelajari sastra dengan metode mu’allaqat, polemik, khamariyat dan hamasiyat, tanpa merujuk pada Al-Quran. Ia berkata, “Kita di Universitas meninggalkan khasanah yang bernilai(Al-Quran) dalam pengkajian tafsir. Amat sedikit diantara kita yang berusaha mentransformasikan AlQuran ke bidang studi sastra murni yang biasanya kita batasi hanya dengan hanya diwan-diwan syair dan prosa para pujangga.”

Bagi Bintu Syathi’, tafsir bayani(sastra) bukanlah suatu usaha yang dilarang untuk merealisasikan tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini beliau banyak berpedoman pada kitab-kitab tafsir yang konsen terhadap aspek-aspek balaghah Al-Quran.
(bismillah)(kiri)
(bismillah)(kanan)

Artikel yang berkaitan



0 komentar:

Poskan Komentar

Pengikut