Rabu, 16 November 2011

PENGANTAR STUDI SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM

PENGERTIAN SEJARAH
ETIMOLOGIS
          Sejarah.   kata sejarah  diambil dari bahasa Arab, yaitu dari  kata syajarah yang berarti pohon, yang melambangkan silsilah orang-orang besar. Dikatakan demikian, karena dulunya sejarah merupakan ceritera yang mengisahkan silsilah orang-orang besar. Kata syajarah atau syajaratun ini masuk bahasa Melayu tidak lama sesudah abad ke-13 dan kemudian mengambil bentuk syajarah yang mirip sekali dengan ucapan bahasa Indonesia modern.
          Tarikh. Kata tarikh (Arab) diambil dari kata kerja bentuk lampau (fi’il madli’) arrakha yang masdarnya menjadi ta’rikhan dan arrakhan yang bacaannya menjadi tarikh sebagaimana telah kita maklumi bersama. Adapun arti kata tersebut adalah mengetahui waktu. Akan tetapi di samping itu ada yang berpendapat bahwa arti tarikh adalah: “Rentetan ceritera-ceritera atau kejadian-kejadian yang terjadi di masa lampau.”
                Ada juga pandangan bahwa Kata tarikh berasal dari bahasa semit yang mempunyai arti bulan.  Kata bulan tersebut bisa menunjuk pada bulan sebagai benda langit dan juga bisa menunjuk pada  hitungan atau ketentuan masa, zaman, periode atau waktu.   Dalam perkembangan kemudian kata tarikh bermakna sejarah karena dalam kajian sejarah tidak dapat dilepaskan dari faktor temporal atau waktu.  Kata tarikh inilah yang sering digunakan dalam literature kajian  sejarah.
          Kisah. Secara etimologis kata kisah  berarti menceritakan khabar kepadanya. Kata kisah sesungguhnya berasal dari Bahasa Arab, yaitu dari kata qashshu yang arti dasarnya  adalah mengikuti atau mencari jejak.  Selain mempunyai arti dasar mencari jejak atau mengikuti, kata al-qashshu yang kemudian membentuk kata al-qashshashu juga bisa berarti berita yang kronologis atau berurutan, al-amr (urusan), khabar (berita) dan juga hal (keadaan).  Kisah biasanya berisi gambaran satu keadaan tertentu di mana sebagian peristiwa terkadang didahulukan dan sebagian lagi diakhirkan, sebagian disebutkan dan sebagian lagi dihilangkan. Dibandingkan dengan kata sebelumnya, kata kisah adalah kata  yang sering digunakan al-Qur’an untuk menunjuk pada cerita-cerita ummat terdahulu.
          Sirah. Kata sirah  secara bahasa mempunyai banyak makna, antara lain  reputasi, tingkah laku (as-suluk), cerita/kisah (at-taariih), jalan atau cara (ath-thariq/al-mahzhab), bentuk rupa, (al-baiah) dan biografi (siratun rajulun).  Dari berbagai makna di atas, kata sirah seringkali dipahami sebagai biografi atau riwayat hidup seseorang.  Kata sirah ini merupakan kata yang popular digunakan dalam kajian riwayat hidup Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya  yang dikenal dengan istilah sirah Nabawiyah dan sirah shahabiyah.
          Histori/Stori. kata Inggris history, berasal langsung dari bahasa Yunani kuno istoria yang kurang lebih berarti belajar dengan cara bertanya-tanya.
                Istoria, selain berarti belajar dengan cara bertanya-tanya, juga berarti ilmu. Menurut filosof Yunani Aristoteltes, istoria berarti suatu pertelaan sistematis mengenai seperangkat gejala alam, entah susunan kronologi merupakan faktor atau tidak di dalam pertelaan itu. Penggunaan tersebut – meskipun jarang – masih tetap hidup di dalam bahasa Inggris dan di dalam sebutan natural history. Karena perkembangan zaman, kata Latin yang sama artinya Scientea, lebih sering dipergunakan untuk menyebutkan pertelaan sistematis non kronologis tentang gejala alam; sedangkan kata istoria biasanya dipergunakan bagi pertelaan mengenai gejala-gejala (terutama hal ihwal manusia) dalam urutan kronologis.
          Di dalam kamus bahasa Indonesia, yaitu   Kamus Umum Indonesia yang dikarang oleh W.J.S. Poerwadarminta, kata sejarah diartikan dengan:
                Silsilah; asal-usul (keturunan);
                Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau
                Riwayat;
                Tambo
Terminologis
          Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau.  Lebih menekankan pada faktor peristiwanya sehingga sejarah menjadi unik, serba obyektif, mutlak, statis atau tidak dapat berubah.
          Record/rekaman, cararan, rekonstruksi, interpretasi ataupun historografi terhadap jejak-jejak peristiwa atau kejadian masa lalu. Lebih menekankan pada faktor rekonstruksi, interpertasi dan historiografinya sehingga sejarah menjadi subyektif, relatif, dinamis atau dapat berubah.
Pengertian Sejarah Menurut Para Sejarawan
          Ibnu Khaldun“
                Sejarah adalah catatan masyarakat umat manusia atau peradaban dunia tentang
*        perubahan-perubahan yang terjadi pada watak itu, seperti keliaran, keramah-tamahan dan solidaritas golongan;
*        revolusi-revolusi dan pemberontakan-pemberontakan oleh segolongan rakyat melawan golongan yang lain dengan akibat timbulnya kerajaan-kerajaan dan negara- negara dengan tingkat bermacam-macam; macam-macam dan kedudukan orang, baik untuk mencapai penghidupannya maupun dalam bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan dan pertukangan, dan pada umumnya
*        segala perubahan yang terjadi dalam masyarakat karena watak masyarakat itu sendiri.”
          al-Kafiyaji (al-Kafiji):
                “Sejarah adalah penentuan waktu yang dikaitkan dengan waktu secara mutlak; baik waktu yang telah lampau; waktu kini ataupun waktu yang akan datang”
          Allan Nevis:
                “Pada hakekatnya, sejarah adalah sebuah jembatan yang menghubungkan masa lampau dengan masa kini dan sebagai jalan untuk menuju masa lampau”
          Sidi Gazalba
                “Sejarah adalah gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai makhluk sosial yang disusun secara ilmiah dan lengkap meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan kefahaman tentang apa yang telah berlalu.”
PERADABAN
Peradaban dalam bahasa Arabnya biasanya disebut dengan istilah madaniyah yang berarti kota atau tsaqafiyah yang berarti  kehalusan budi pekerti.  Dari kata madaniyah kemudian memunculkan isrilah tamaddun
          Sementara itu, dalam bhasa Inggrisnya, kata peradaban disebut dengan isrilah Civilization.  Istilah tersebut berasal dari akar kata civic, yaitu kata yang berkaitan dengan persoalan hak dan kewajiban warga Negara.  Istilah tersebut juga ada yang menyebut berasal dari  bahasa latin, yaitu dari kata civitas yang berarti Negara.  Dari kata itu, kemudian terbentuk  to civilize dalam bahasa Inggris yang berarti memurnikan, menggosok atau membuat cerah.  Oleh karena itu kata civilsasi kemudian menjadi bermakna menjadikan seorang warga negara  hidup lebih baik, teratur, tertib, sopan dan berkemajuan.
          Masyarakat yang baik, teratur, sopan dan berkemajuan selanjutnya menjadi cirri masayarakat yang beradab.  Hal itu sesuai dengan asal kata peradaban, yaitu adab yang berarti sopan santun.
          Adapun  makna kata peradaban secara istilahnya adalah khazanah pengetahuan terapan yang dimaksudkan untuk mengangkat  dan meninggikan manusia dari peringatan penyerahan diri terhadap kondisi alam sekitarnya. Peradaban merupakan ikhtisar perkembangan yang diraih tenaga intelektual manusia. 
          Peradaban meliputi semua pengalaman praktis yang diwarisi dari satu generasi ke generasi.  Peradaban merupakan gejala yang dibuat, apa saja yang digunakan dan bersifat material, semisal pranata-pranata social. Hal inilah yang membedakan antara peradaban dan kebudayaan.  Jika kebudayaan  bentuknya lebih bersifat ide dan tidak bersifat material, semisal nilai, religi, sastera, seni dan moral. Kebudayaan itu merupakan apa yang dirindukan atau yang diinginkan.
ISLAM
Etimologis
kata Islam dipahami berasal dari kata dasar:
          salima, mempunyai makna  selamat, sejahtera, sentosa, bersih dan bebas dari cacat.
          Aslama – yaslimu,  mengandung arti menyerahkan diri, menyelamatkan diri, taat, patuh dan tunduk. 
          Salam,  mengandung makna damai, aman dan tentram.
Jadi, Islam adalah sikap penyerahan diri kepada Tuhan dan melaksanakan segala ketentuan dan aturan yan ditetapkan oleh Allah dengan penuh kepatuhan dan ketaatan untuk mencapai kesejahteraan hidup yang aman dan damai.   Untuk itu,  kata Islam kemudian dipahami sebagai sikap kepatuhan, ketundukan dan ketaatan terhadap aturan-aturan, hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh sang khaliq kepada makhluq-Nya
Terminologis
          Islam itu adalah aturan-aturan, hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang diturunkan oleh Allah swt. sebagai petunjuk dan penjelasan kepada ummat-Nya dalam mengarungi kehidupannya di dunia.  Aturan-aturan itu secara lengkap dan paripurna termaktub di dalam al-Qur’an dan diperjelas dalam sunnah-sunnah Nabi saw.
Historisitas
          Kata Islam yang berkonotasi pada makna yang berisfat obyektif mengarah pada makna kata Islam yang sebenarnya, yaitu Islam sebagai aturan-aturan, hukum-hukum dan  ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., yang termaktub di dalam al-Qur’an dan teraplikasi dalam as-Sunnah.  Islam dalam arti yang seperti itu sifatnya mutlak, pasti benar, dan tidak mengalami perubahan sampai akhir zaman.  Itulah Islam yang dogmatis dan normative.
          Sementara itu, kata Islam yang berkonotasi pada makna subyektif adalah Islam sebagai hasil pemahaman ummat terhadap ajaran-ajaran yang termaktub dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.  Islam dalam makna yang demikian sifatnya relative dan dinamis. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah Islam historisitas.
          Di dalam studi Sejarah dan Peradab Islam, makna kata Islam yang dimaksud adalah Islam dalam dataran historisitas. Islam yang berkonotasi pada dinamika dan teraplikasi dalam perjalanan hidup umat Islam sejak kemunculannya sampai sekarang. 




(bismillah)(kiri)
(bismillah)(kanan)

Artikel yang berkaitan



0 komentar:

Poskan Komentar

Pengikut